Bogor – Pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 (SE2026) oleh Badan Pusat Statistik (BPS) mulai berlangsung di berbagai daerah di Indonesia. Bersamaan dengan itu, masyarakat juga perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai modus penipuan yang mengatasnamakan petugas sensus.

Sumber : zivlintax.com
Baca Juga : ZivlinTax: Mendampingi Bisnis yang Ingin Melangkah Lebih Jauh
Pelaku kejahatan sering memanfaatkan momen ketika masyarakat sedang menunggu kedatangan petugas resmi. Dengan mengenakan atribut yang menyerupai petugas BPS, mereka mencoba memperoleh data pribadi, informasi keuangan, bahkan melakukan penipuan berkedok pendataan. Karena itu, penting bagi masyarakat untuk memahami bagaimana pelaksanaan Sensus Ekonomi yang sebenarnya, apa saja yang boleh dan tidak boleh diminta oleh petugas, serta bagaimana cara mengenali petugas resmi BPS.
Apa Itu Sensus Ekonomi 2026?
Sensus Ekonomi 2026 (SE2026) merupakan kegiatan resmi yang diselenggarakan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) setiap 10 tahun sekali untuk memperoleh gambaran mengenai kondisi dan perkembangan kegiatan ekonomi di Indonesia. Data yang dikumpulkan digunakan sebagai dasar penyusunan statistik nasional, perencanaan pembangunan, penyusunan kebijakan ekonomi, hingga evaluasi berbagai sektor usaha.
Perlu dipahami bahwa data hasil sensus dijamin kerahasiaannya dan digunakan untuk kepentingan statistik, bukan untuk penetapan kewajiban perpajakan maupun kepentingan penegakan hukum.
Tahapan Pelaksanaan Sensus
Pelaksanaan SE2026 dilakukan dalam dua tahapan utama.
Tahap pertama adalah pendataan mandiri secara online yang berlangsung mulai 1 Mei hingga 31 Juli 2026.
Selanjutnya, BPS melakukan pendataan lapangan (door-to-door) yang berlangsung mulai 15 Juni hingga 31 Agustus 2026 dengan melibatkan sekitar 251.000 petugas sensus di seluruh Indonesia.
Karena banyaknya petugas yang bertugas di lapangan, masyarakat perlu mengetahui cara membedakan petugas resmi dengan oknum yang memanfaatkan situasi untuk melakukan penipuan.
Modus Penipuan yang Perlu Diwaspadai
Seiring pelaksanaan sensus, terdapat beberapa modus penipuan yang perlu mendapat perhatian.
1. Menggunakan Atribut Petugas Palsu
Pelaku sering mengenakan rompi, tanda pengenal, clipboard, hingga formulir yang dibuat menyerupai milik BPS agar terlihat meyakinkan. Banyak masyarakat langsung percaya hanya karena melihat atribut tersebut.
Padahal, atribut dapat dipalsukan dengan mudah. Karena itu, jangan hanya melihat pakaian atau perlengkapannya. Selalu lakukan verifikasi identitas petugas sebelum memberikan informasi apa pun.
2. Meminta Data Rahasia
Petugas BPS tidak pernah meminta data yang bersifat rahasia.
Apabila ada seseorang yang mengaku petugas sensus lalu meminta:
– PIN ATM.
– Password mobile banking.
– Kode OTP.
– Nomor kartu kredit.
– Password akun digital.
– Informasi rekening bank.
Maka hampir dapat dipastikan bahwa tindakan tersebut merupakan upaya penipuan. Informasi tersebut sama sekali tidak diperlukan dalam kegiatan sensus ekonomi.
3. Meminta Foto Sambil Memegang KTP
Modus lain yang mulai banyak ditemukan adalah meminta masyarakat berfoto sambil memegang KTP dengan alasan sebagai bagian dari proses verifikasi. Padahal, foto tersebut dapat disalahgunakan untuk berbagai tindak kejahatan, seperti penyalahgunaan identitas, pembukaan rekening ilegal, hingga pengajuan pinjaman online tanpa sepengetahuan pemilik data.
Karena itu, jangan memberikan foto identitas apabila tidak benar-benar memahami tujuan dan dasar hukumnya.
4. Meminta Biaya Administrasi
Sensus Ekonomi tidak dipungut biaya apa pun. Apabila ada seseorang yang meminta uang dengan alasan biaya administrasi, biaya pendataan, biaya registrasi, atau alasan lain yang berkaitan dengan sensus, masyarakat sebaiknya segera menolak.
Seluruh proses pendataan resmi BPS dilakukan secara gratis.
5. Mengirim Link atau Google Form Palsu
Pelaku juga sering mengirim tautan melalui WhatsApp, SMS, email, maupun media sosial yang mengaku sebagai formulir resmi sensus.
Biasanya, formulir tersebut meminta informasi yang sangat sensitif, seperti:
– Nomor Induk Kependudukan (NIK).
– Nama ibu kandung.
– Nomor rekening bank.
– Data keuangan.
– Informasi pribadi lainnya.
Masyarakat sebaiknya berhati-hati terhadap tautan yang berasal dari sumber yang tidak jelas dan hanya mengikuti mekanisme pendataan melalui saluran resmi BPS.
Baca Juga : Cara Membuat Bupot PPh Final UMKM 0,5% di Coretax, Jangan Sampai Salah Pilih Kode Pajak!
Ciri-Ciri Petugas BPS yang Resmi
Agar tidak menjadi korban penipuan, masyarakat perlu mengetahui karakteristik petugas resmi.
Petugas sensus umumnya dilengkapi dengan:
– Kartu identitas resmi BPS.
– QR Code yang dapat dipindai untuk proses verifikasi.
– Nama dan foto petugas yang jelas.
– Rompi resmi berlogo BPS dan Sensus Ekonomi 2026.
– Surat tugas dari kantor BPS setempat.
Selain itu, petugas resmi hanya akan menanyakan informasi yang berkaitan dengan kegiatan usaha atau kondisi ekonomi sesuai kebutuhan sensus.
Mulai 1 Oktober 2026, Balas Chat Customer di WhatsApp Business Berbayar? Ini Penjelasan Lengkap Kebijakan Terbaru Meta!
Apakah Data Sensus Digunakan untuk Pajak?
Salah satu pertanyaan yang sering muncul adalah apakah data sensus akan digunakan oleh Direktorat Jenderal Pajak (DJP). BPS menegaskan bahwa data Sensus Ekonomi digunakan untuk kepentingan statistik nasional dan dilindungi oleh ketentuan mengenai kerahasiaan data statistik.
Artinya, tujuan utama sensus adalah memperoleh gambaran kondisi ekonomi Indonesia, bukan untuk menghitung, menetapkan, atau menagih pajak masyarakat. Walaupun demikian, masyarakat tetap harus menjaga kerahasiaan data pribadi dan hanya memberikan informasi kepada petugas yang benar-benar telah terverifikasi.
Apa yang Harus Dilakukan Jika Ragu?
Apabila merasa ragu terhadap seseorang yang mengaku sebagai petugas sensus, jangan terburu-buru memberikan informasi.
Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:
– Meminta kartu identitas resmi petugas.
– Memindai QR Code pada kartu identitas apabila tersedia.
– Memeriksa surat tugas yang dibawa petugas.
– Menghubungi kantor BPS setempat untuk melakukan verifikasi.
– Menolak memberikan data rahasia sebelum identitas dipastikan benar.
Langkah sederhana tersebut dapat membantu mencegah penyalahgunaan data pribadi.
Kesimpulan
Pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 merupakan kegiatan resmi pemerintah yang bertujuan memperoleh data statistik mengenai kondisi perekonomian Indonesia. Namun, masyarakat perlu mewaspadai berbagai modus penipuan yang memanfaatkan kegiatan tersebut untuk memperoleh data pribadi maupun melakukan kejahatan.
Ingatlah bahwa petugas BPS tidak pernah meminta PIN ATM, password mobile banking, kode OTP, biaya administrasi, maupun informasi keuangan yang bersifat rahasia. Selalu verifikasi identitas petugas sebelum memberikan data, dan jangan mudah percaya pada tautan atau formulir yang berasal dari sumber yang tidak jelas.
Menjaga data pribadi sama pentingnya dengan menjaga aset. Sedikit kehati-hatian hari ini dapat mencegah kerugian yang jauh lebih besar di kemudian hari.

Konsultan pajak Bogor murah bukan berarti asal-asalan.
Dapatkan pendampingan pajak yang jelas, aman, dan sesuai kebutuhan bisnis Anda.
📞 Whatsapp: 0811-1330-812
📱 Instagram & TikTok: @zivlin.tax
Zivlin Tax – Pajak Jadi Lebih Mudah, Hidup Lebih Tenang

